Azka

•Januari 9, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

mimpikah?

bukan!

kau telah hadir disini

membawa secerca asa

kerlip matamu,

seribu raut wajahmu,

dan genggam erat pada separuh jariku

membuatku hidup

membuatku menyimpan harapan

kaulah segalanya

empatbelas desember harimu

kan kupanggil kau … Azka.

perempuan suci dan bersih

semoga.

The 11th Hour

•Agustus 12, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Sebuah film narasi yang berjudul “The 11th Hour”, mengangkat issue dunia internasional yaitu global warming. Dengan penuturan yang sangat detail dan mudah dicerna, Loenardo Di caprio yang menjadi produser dan narator film ini, membawa kita penonton kedalam suatu petualangan science  yang nyata dan membuat mata terbuka.

Issue global warming, yang saat ini hangat dibicarakan dunia internasional, “the 11th hour” membawa kita pada perspektif yang berbeda. Film ini akan membuat penonton menginginkan yang lebih.  Seperti film documenter inconvenience of truth by Al gore, leonardo menarasikan global warming adalah bentuk balas dendam alam pada manusia.

Selama lebih dari 200 tahun, manusia sudah merampas semua sumber daya alam dengan tanpa henti dan  tanpa feedback. Sebelum manusia menemukan sumber bahan bakar 2 abad yang lalu, tingkat pertumbuhan kelahiran manusia sangat lah lamban. Pada abad ke 18, total penduduk bumi belum mencapai 1 miliyar. Pergerakan perkembangan manusia sangatlah lamban. Manusia masihlah sangat nature, memanfaatkan lahan dan peternakan untuk keberlangsungan hidup.

Lalu, “Boom” terjadi, ketika manusia dengan perkembangan intelijennya yang cepat, menemukan sumber bahan bakar. Era yang menjadi momentum, terlahirnya sebuah revolusi indusri, pada awal abad 19. Pertambangan bahan bakar terjadi diseluruh dunia, explorasi sumber daya terjadi di semua belahan dunia, dan semua bidang kehidupan. Diikuti dengan penemuan penemuan yang membawa manusia ke era perubahan.

Ditemukannya listrik, mesin, pengobatan, konstruksi bangunan, transportasi membawa manusia mengalamai ledakan pertumbuhan. Dari jumlah pendudukan yaang kurang dari 1 miliyar sebelum abad 18, dalam 1 abad setelah revolusi industri, penduduk bumi meningkat menjadi 3 milyar sampai awal abad 20. Kemudahan manusia dalam pengobatan kesehatan, pangan, transportasi, komunikasi, membawa manusia lebih gencar mengexplorasi sumber daya alam. Kebutuhan penduduk dunia yang semakin tinggi, membuat hutan hutan hujan, menjadi ladang pertanian, sungai dibendung untuk pengairan dan sumber air manusia, munculnya industri segala bidang, makanan, pakaian, transportasi, telekomunikasi dll, mengakibatkan kebutuhan sumber daya bahan bakar lebih tinggi. Dampaknya pembuangan gas emisi yang secara brutal, merupakan dampak pemanasan dunia secara global.

“Whats wrong with mankind?” inilah intisari yang dipaparkan narator film ini.

Film ini membuktikan tingkat konsumeritas manusia sudah pada ambang kritis. Film ini menganalogikan, manusia sekarang pada “On the critical line.”

Lalu, pertanyaan yang muncul, what should we do? By who? When? Where?

Inilah pesan dari film the 11th hour. Disisi lain kita manusia, tidak mungkin menghilangkan kebutuhan kita akan bahan bakar, kita tidak mungkin menghilangkan tingkat konsumeritas pada segala resource di dunia. Tapi kita adalah manusia, mahluk dengan tingkatan hidup tertinggi, yaitu homo sapien sapiens. Mahluk yang paling cerdas di muka bumi.

Banyak hal yang dapat diciptakan. Ide dan teknologi akan membuat dunia lebih baik. Film ini pun mengajak manusia untuk menyadari, bahwa manusia hidup karena bumi dan matahari. Manusia adalah bagian dari bumi. Tanaman, hewan, sumber daya alam berasal dari bumi dan matahari. Film ini mengajak kita untuk mempertimbangkan sumber energi yang ada; air, angin dan matahari.

Lalu apa jawaban pertanyaan tadi? Apa yang harus kita lakukan? Oleh siapa? Kapan? Dan dimana ? Film ini membawa kita, untuk menyadari, seberapa banyak manusia telah rakus terhadap alam. Dan alam telah membalasnya, ketika kutub utara mencair, bencana alam di berbagai belahan dunia terjadi, kepunahan lima puluh ribu spesies binatang, ribuan penyakit baru bermunculan, perang akibat kebutuhan bahan bakar dan kelaparan, telah terjadi. Film ini membuka mata kita, bahwa kita manusia harus melakukan sesuatu, mulai dari diri sendiri, sekarang juga, dan dimanapun kita berada.

Film ini membawa pesan, kita dapat mengurangi tingkat konsumeritas secara global, manusia dapat menyelamatkan dunia dari pemanasan global. Menyelamatkan hutan hujan dengan penanaman kembali, mengurangi konsumeritas dengan cara menghemat segala produk hutan, kertas, rumah kayu, pembakaran bahan bakar kayu. Memberikan feedback bagi dunia, dengan cara menanam beberapa pohon atau tanaman dihalaman rumah, sebagai kontribusi mengganti kadar oksigen yang kita gunakan untuk bumi. Kemudian, mengurangi penggunaan bahan bakar dengan memanfaatkan teknologi solar cell, memanfaatkan teknologi transportasi bertenaga listrik. Dalam keseharian, mengganti tas plastik dengan tas kain, mengurangi gaya hidup berlebihan. Jika ketika kita biasa belanja dengan tanpa membawa tas sendiri, mulailah dengan membawa tas kain pribadi. Ketika kita menggunakan 10 lembar kertas perhari, rubahlah dengan 5 lembar, dan sisanya adalah manual. Apapun kegiatan yang dilakukan atas dasar mengurangi dan menghemat energi, merupakan tindakan kecil namun sangat berarti. Jika satu orang menghemat air pembuangan sebanyak 1 liter, maka, dalam 1 hari ada 3 miliyar liter air yang dapat diselamatkan. Hal kecil dapat menjadi besar, bagi diri sendiri, lingkungan dan masa depan.

Kapan ini harus dimulai? Tentu saja saat ini, sekarang juga, dimana pun kita berada.

Itulah pesan yang ingin disampaikan film “The 11th Hour”.  Jika masih penasaran, silahkan tonton aja filmnya.

Puisi Untuk Gerimis

•April 4, 2008 • 1 Komentar

Buliran itu tepat adanya, Menemani sunyi nya malam
Memberi warna pada kegelapan tanpa sepengetahuan
Betapapun sekuat tenaga kau ais buliran buliran
Takkan pernah kau dapatkan buliran dalam genggaman
Ia akan senantiasa hilang, tak berjejak, meninggalkan kegalauan
Lalu ia kembali menemani esok malam
Mewarnai galau yang tersisa.
Ah bukankah perasaan yang indah!

Kesenyapan, 3 april 2008

1st story

•November 20, 2007 • Tinggalkan sebuah Komentar

Cerpen : Kutegaskan, Aku tidaklah bermimpi!

Kosong. Langit-langit yang tidak berubah setiap kukedipkan mata, membuat pandanganku sempit tak berwarna. Dan mataku tertuju pada seekor binatang kecil bersayap yang mendekat dan mulai mengelilingi lampu. Andaikan saja aku binatang itu, akan kunikmati setiap indah dengan terang, menyorot, mempertegas raut tidurmu tanpa kau ketahui. Dan mungkin rasa rinduku yang tak pernah kusampaikan akan membuat kau terjaga. Teramat lama tak kunikmati semua itu, dan kusadari kau semakin jauh.

Sesaat kau terlupa. Namun ketika kulihat senyum itu bukan untukku, tawa itu bukan karena candaku dan raut tangis itupun tak pernah kuketahui, aku sakit. Tak lagi kutemui hari yang selalu kau warnai dengan semua itu. Hidupku hanyalah (seperti) langit-langit tanpa warna diatasku. Aku… melamunkanmu.

 

Sebuah kebetulan membuat mataku menangkap sosokmu, dan aku terkejut hari itu. Kau tampak berbeda. Senyum yang terbuat dan canda gurau dengan beberapa orang disekelilingmu, membuatku terdiam, mengamati, menikmati. Namun, selalu… kakiku mengangkuh untuk menghampiri. Aku segan… dan aku hanya memutar kembali.

 

Lamat-lamat lampu itu membentuk bayangmu. Membiaskan hingga seperti tiga bayangan. Tersenyum. Kupejamkan mataku, dan mengingat senyum yang kerap membuatku kaku. Aku ingat terakhir kali melihatmu dengan wajah memerah, kecewa dan kuyakin membuncah tanpa kuketahui. Banyak hal yang telah kulakukan dan itu tidak seharusnya.

 

Kuingat satu waktu kuceritakan tentang mereka, yang telah memaknai cinta sedemikian rupa. Kau terpesona. Entah apa yang telah kau bayangkan tentang mereka, namun kulihat kau malah tulus berbinar, tak percaya. Mungkin, satu dari mereka telah kau ingat betul, karena teramat sering ku membicarakannya. Aku menyesal telah berputar-putar disana tanpa peduli raut rasamu yang sedang bergumul menilaiku, membentuk sebuah “Aku” dimatamu.

 

Kau berkomentar takjub tentang semua kisah-kisahku, yang menyedihkan, yang payah. Kau malah berfikir, aku layak dengan setiap kisah itu, aku pantas mengulang kisah itu, malah kau tambahkan pula “mungkin akan lebih indah” katamu seperti itu. Tapi, kukatakan:Tidak! Bukan seperti itu. Ketika kuceritakan semua yang kuinginkan, hal-hal bosan yang tidak ingin kuulang, perjalanan yang tidak pernah berujung, kau mengerti dan setuju, bahkan kau anggukkan kepala dan berkata “aku menyetujuimu!” Lalu dengan tegas pula, kau ceritakan tentang kisah-kisahmu yang biasa, tanpa makna dan sepi. Jenuh yang kau rasa, menghadirkan kehampaan sikap. Bertahan. Aku pun tersenyum, kuyakinkan kau saat itu, seharusnya kau tidak perlu seperti itu, karena teramat hijau kau mengayuh hidup. “Sungguh!” yakinku. Lalu kau hanya tersenyum, lelah berkomentar.

 

Kau isyaratkan sesuatu. Ada harapan disitu. Pikirmu aku tidak mengerti. Pikirmu aku bodoh. Teramat jelas untuk tidak kuketahui. Kesamaan makna membuat seberkas harap dimatamu. Dan aku pura-pura tak peduli. Kualihkan pandanganku, kubicarakan kembali tentang mereka. Lalu… kau kecewa.

 

Dini hari yang terasa menyesakkan. Hembusan nafas panjang, tak juga membuat perubahan. Aku masih terjaga, banyak pergulatan rasa yang ingin kuceritakan. Padamu. Seharusnya. Namun ku hanya disini. Membayangkan yang mampu terbayang. Keinginan yang berkecamuk dan tidak pada alurnya. Diluar jangkauan.

 

Kualihkan pandangan. Mataku tertuju pada secarik kertas yang telah lusuh dan bernoda. Tertempel lama disitu. Di dinding yang kerap kupelototi jika hatiku berkecamuk tak tentu. Kosong. Barisan kata yang membuat bait, empat-empat dengan spasi yang memisahkan, memadatkan kertas, sungguh komposisi yang mewakili rasa. Ya, rasamu. Kau tak akan menyangka, berulangkali selalu ku pandangi kertas itu, walaupun, kuakui telah lama kumengerti. Aku tersanjung. Namun, itupun tak pernah kusampaikan pula.

 

Ungkapan pertama dan terakhir yang memperjelas rasamu. Hari itu. Yang bagiku tanpa arti. Hari yang kau harap berbeda namun tidak, lalu kau kecewa pada akhirnya. Hari kau beri pucuk kertas itu, dan hilang sesudahnya. Hingga membuatku lemas setelah kupelototi setiap barisnya, kata demi kata. Menyayat, mengikis, menyentuh ruangku yang tak pernah tersentuh. Hari saat ku-urungkan janji untukmu, dan membuat alasan yang teramat jelas menyakitimu. Hari kuputuskan untuk memilih salah satu dari mereka, dan bukan kau. Ya, bukan kau! hanya untuk hari itu.

 

Rasaku, canda-tawaku, segala sumringah sehari itu, sungguh telah kau buat runtuh oleh setiap baris kata yang kau buat, meleburkan semua rasaku, meretakkan segala kepura-puraanku, kemudian hancur. Kau pun tahu akhirnya. Kau bungkam apapun yang ingin kuungkapkan. Ingin kuteriakkan padamu saat itu, betapa tepat kau berkata. Lalu, mengapa kau terburu-buru? lalu hilang tak menyisakan apapun. Satu hal yang ingin selalu kulakukan. Penjelasan. Penjelasan yang tidak pernah kusampaikan, tidak pernah kau beri kesempatan, tidak mungkin kau dengar.

 

Setahun sudah sejak hari itu. dan aku masih kehilanganmu. Bukan jarak yang menjauhkan mu dariku, namun… rasa itu. Rasa takut jika satu saat kubuat kembali wajah memerah itu, mengulang tanpa rasa sadarku. Dan kau mungkin akan benar-benar membunuhku. Seperti secarik kertas yang terbuat karena ulahku, dan aku hampir mati. Tidak kah kau sadari, hanya sebuah carik kertas, mampu mensiluetkan betapa besar aura yang menegaskanmu. Kau mampu mengusik hari-hariku sejak saat itu. selalu. Terus dan terus menerus.

 

Kini, apa yang sedang kulakukan hanyalah mengulang ratapan, diantara ratapan-ratapan yang tidak mungkin kau dengar. Mengingatmu dibawah langit-langit tanpa warna adalah kebiasaan bodoh yang tak mudah kuubah. Mungkin, akan berubah jika bayangan wajahmu dilangit-langit itu menjelmakan-mu, lalu sebuah senyum, akan mampu menghapus rinduku yang mulai bertumpahan. Aku merindukanmu. Aku menangisimu.

 

Andai kau disini, sekarang! Menunggu apa yang akan kulakukan, atas pertemuan kita tadi siang. Ingin kuteriakkan protesku. Protesku atas keterlaluan yang kau hadirkan. Mengapa? Mengapa harus hari esok yang kau pilih? Begitu kejamkah aku menyentuhmu dahulu, hingga aku pantas mendapatkan hal serupa yang sama seperti setahun lalu? Setahun lalu ketika kau meninggalkanku dengan secarik kertas lusuh itu.

 

Dan, kini! Kudapat kembali sebuah carik kertas, ada namamu dan nama asing disitu. Menegaskan kepergianmu esok, menegaskan sebuah ikrar yang tak mungkin kusela, selamanya. Senyuman di siang hari yang menyiratkan rasa maafmu, lalu membungkam semua-semua rencanaku untukmu, harap-harapku, segala penjelasan yang telah kupersiapkan lama, hanya untuk hari saat kau memaafkanku. Tapi semua hanyalah percuma. Rasa tulus maafmu membungkam harapku, ketika kau tambahkan, kau akan pergi selamanya. Tapi, mengapa? Tidak adakan kesempatan lain yang indah darimu, untukku, untuk kita.

 

Angin pagi yang mulai menusuk-nusuk, melengkapi rasa sakit yang telah melabirin, memenuhi, memadat rapih disetiap ronggaku yang tersisa. Aku masih terjaga, bahkan binatang bersayap yang mengiba akan kisahku telah meninggalkanku. Buliran hangatpun telah kehabisan bulir, tak lagi menghangatkan, tak lagi menemaniku. Hanya aku, angin dan secarik kertas.

 

Semalaman… sepagian… sendirian. Berharap semua hanyalah mimpi. Mimpi. Ini hanya mimpi. Mimpi yang melelahkan, mimpi yang sebentar. Mimpi yang akan membuyar ketika ku membuka mata, dan kau masih dalam genggamanku, hanya untukku, untukku! Tanpa menyadari, satu rasa pahit, yang semakin memahit, yang terus terbenam dimataku, bahwa; aku tidak bermimpi. Aku tak pernah bermimpi, aku hanyalah puing-puing sisa malam panjang yang kesakitan, yang selalu terjaga, berulang-ulang menegaskan; AKU tidaklah bermimpi!

 

Hanya serpihan lama…

Nov04-Jan05/hani

terimakasih untuk rasa, manusia dan hidup yang mempunyai-KATA.

Liebe von mein Leben?

•November 16, 2007 • 1 Komentar

ketika malam menyepi
ada rasa kian menganga.
luka
lalu, mencoba menutup mata
buliran pun terlanjur jatuh.
lelah
sampai kapan..
aku tak pernah tau
harap dan asa,
hanyalah serpihan


Liebe von mein Leben?
i’ve lost u..