Cerpen : Kutegaskan, Aku tidaklah bermimpi!
Kosong. Langit-langit yang tidak berubah setiap kukedipkan mata, membuat pandanganku sempit tak berwarna. Dan mataku tertuju pada seekor binatang kecil bersayap yang mendekat dan mulai mengelilingi lampu. Andaikan saja aku binatang itu, akan kunikmati setiap indah dengan terang, menyorot, mempertegas raut tidurmu tanpa kau ketahui. Dan mungkin rasa rinduku yang tak pernah kusampaikan akan membuat kau terjaga. Teramat lama tak kunikmati semua itu, dan kusadari kau semakin jauh.
Sesaat kau terlupa. Namun ketika kulihat senyum itu bukan untukku, tawa itu bukan karena candaku dan raut tangis itupun tak pernah kuketahui, aku sakit. Tak lagi kutemui hari yang selalu kau warnai dengan semua itu. Hidupku hanyalah (seperti) langit-langit tanpa warna diatasku. Aku… melamunkanmu.
Sebuah kebetulan membuat mataku menangkap sosokmu, dan aku terkejut hari itu. Kau tampak berbeda. Senyum yang terbuat dan canda gurau dengan beberapa orang disekelilingmu, membuatku terdiam, mengamati, menikmati. Namun, selalu… kakiku mengangkuh untuk menghampiri. Aku segan… dan aku hanya memutar kembali.
Lamat-lamat lampu itu membentuk bayangmu. Membiaskan hingga seperti tiga bayangan. Tersenyum. Kupejamkan mataku, dan mengingat senyum yang kerap membuatku kaku. Aku ingat terakhir kali melihatmu dengan wajah memerah, kecewa dan kuyakin membuncah tanpa kuketahui. Banyak hal yang telah kulakukan dan itu tidak seharusnya.
Kuingat satu waktu kuceritakan tentang mereka, yang telah memaknai cinta sedemikian rupa. Kau terpesona. Entah apa yang telah kau bayangkan tentang mereka, namun kulihat kau malah tulus berbinar, tak percaya. Mungkin, satu dari mereka telah kau ingat betul, karena teramat sering ku membicarakannya. Aku menyesal telah berputar-putar disana tanpa peduli raut rasamu yang sedang bergumul menilaiku, membentuk sebuah “Aku” dimatamu.
Kau berkomentar takjub tentang semua kisah-kisahku, yang menyedihkan, yang payah. Kau malah berfikir, aku layak dengan setiap kisah itu, aku pantas mengulang kisah itu, malah kau tambahkan pula “mungkin akan lebih indah” katamu seperti itu. Tapi, kukatakan:Tidak! Bukan seperti itu. Ketika kuceritakan semua yang kuinginkan, hal-hal bosan yang tidak ingin kuulang, perjalanan yang tidak pernah berujung, kau mengerti dan setuju, bahkan kau anggukkan kepala dan berkata “aku menyetujuimu!” Lalu dengan tegas pula, kau ceritakan tentang kisah-kisahmu yang biasa, tanpa makna dan sepi. Jenuh yang kau rasa, menghadirkan kehampaan sikap. Bertahan. Aku pun tersenyum, kuyakinkan kau saat itu, seharusnya kau tidak perlu seperti itu, karena teramat hijau kau mengayuh hidup. “Sungguh!” yakinku. Lalu kau hanya tersenyum, lelah berkomentar.
Kau isyaratkan sesuatu. Ada harapan disitu. Pikirmu aku tidak mengerti. Pikirmu aku bodoh. Teramat jelas untuk tidak kuketahui. Kesamaan makna membuat seberkas harap dimatamu. Dan aku pura-pura tak peduli. Kualihkan pandanganku, kubicarakan kembali tentang mereka. Lalu… kau kecewa.
Dini hari yang terasa menyesakkan. Hembusan nafas panjang, tak juga membuat perubahan. Aku masih terjaga, banyak pergulatan rasa yang ingin kuceritakan. Padamu. Seharusnya. Namun ku hanya disini. Membayangkan yang mampu terbayang. Keinginan yang berkecamuk dan tidak pada alurnya. Diluar jangkauan.
Kualihkan pandangan. Mataku tertuju pada secarik kertas yang telah lusuh dan bernoda. Tertempel lama disitu. Di dinding yang kerap kupelototi jika hatiku berkecamuk tak tentu. Kosong. Barisan kata yang membuat bait, empat-empat dengan spasi yang memisahkan, memadatkan kertas, sungguh komposisi yang mewakili rasa. Ya, rasamu. Kau tak akan menyangka, berulangkali selalu ku pandangi kertas itu, walaupun, kuakui telah lama kumengerti. Aku tersanjung. Namun, itupun tak pernah kusampaikan pula.
Ungkapan pertama dan terakhir yang memperjelas rasamu. Hari itu. Yang bagiku tanpa arti. Hari yang kau harap berbeda namun tidak, lalu kau kecewa pada akhirnya. Hari kau beri pucuk kertas itu, dan hilang sesudahnya. Hingga membuatku lemas setelah kupelototi setiap barisnya, kata demi kata. Menyayat, mengikis, menyentuh ruangku yang tak pernah tersentuh. Hari saat ku-urungkan janji untukmu, dan membuat alasan yang teramat jelas menyakitimu. Hari kuputuskan untuk memilih salah satu dari mereka, dan bukan kau. Ya, bukan kau! hanya untuk hari itu.
Rasaku, canda-tawaku, segala sumringah sehari itu, sungguh telah kau buat runtuh oleh setiap baris kata yang kau buat, meleburkan semua rasaku, meretakkan segala kepura-puraanku, kemudian hancur. Kau pun tahu akhirnya. Kau bungkam apapun yang ingin kuungkapkan. Ingin kuteriakkan padamu saat itu, betapa tepat kau berkata. Lalu, mengapa kau terburu-buru? lalu hilang tak menyisakan apapun. Satu hal yang ingin selalu kulakukan. Penjelasan. Penjelasan yang tidak pernah kusampaikan, tidak pernah kau beri kesempatan, tidak mungkin kau dengar.
Setahun sudah sejak hari itu. dan aku masih kehilanganmu. Bukan jarak yang menjauhkan mu dariku, namun… rasa itu. Rasa takut jika satu saat kubuat kembali wajah memerah itu, mengulang tanpa rasa sadarku. Dan kau mungkin akan benar-benar membunuhku. Seperti secarik kertas yang terbuat karena ulahku, dan aku hampir mati. Tidak kah kau sadari, hanya sebuah carik kertas, mampu mensiluetkan betapa besar aura yang menegaskanmu. Kau mampu mengusik hari-hariku sejak saat itu. selalu. Terus dan terus menerus.
Kini, apa yang sedang kulakukan hanyalah mengulang ratapan, diantara ratapan-ratapan yang tidak mungkin kau dengar. Mengingatmu dibawah langit-langit tanpa warna adalah kebiasaan bodoh yang tak mudah kuubah. Mungkin, akan berubah jika bayangan wajahmu dilangit-langit itu menjelmakan-mu, lalu sebuah senyum, akan mampu menghapus rinduku yang mulai bertumpahan. Aku merindukanmu. Aku menangisimu.
Andai kau disini, sekarang! Menunggu apa yang akan kulakukan, atas pertemuan kita tadi siang. Ingin kuteriakkan protesku. Protesku atas keterlaluan yang kau hadirkan. Mengapa? Mengapa harus hari esok yang kau pilih? Begitu kejamkah aku menyentuhmu dahulu, hingga aku pantas mendapatkan hal serupa yang sama seperti setahun lalu? Setahun lalu ketika kau meninggalkanku dengan secarik kertas lusuh itu.
Dan, kini! Kudapat kembali sebuah carik kertas, ada namamu dan nama asing disitu. Menegaskan kepergianmu esok, menegaskan sebuah ikrar yang tak mungkin kusela, selamanya. Senyuman di siang hari yang menyiratkan rasa maafmu, lalu membungkam semua-semua rencanaku untukmu, harap-harapku, segala penjelasan yang telah kupersiapkan lama, hanya untuk hari saat kau memaafkanku. Tapi semua hanyalah percuma. Rasa tulus maafmu membungkam harapku, ketika kau tambahkan, kau akan pergi selamanya. Tapi, mengapa? Tidak adakan kesempatan lain yang indah darimu, untukku, untuk kita.
Angin pagi yang mulai menusuk-nusuk, melengkapi rasa sakit yang telah melabirin, memenuhi, memadat rapih disetiap ronggaku yang tersisa. Aku masih terjaga, bahkan binatang bersayap yang mengiba akan kisahku telah meninggalkanku. Buliran hangatpun telah kehabisan bulir, tak lagi menghangatkan, tak lagi menemaniku. Hanya aku, angin dan secarik kertas.
Semalaman… sepagian… sendirian. Berharap semua hanyalah mimpi. Mimpi. Ini hanya mimpi. Mimpi yang melelahkan, mimpi yang sebentar. Mimpi yang akan membuyar ketika ku membuka mata, dan kau masih dalam genggamanku, hanya untukku, untukku! Tanpa menyadari, satu rasa pahit, yang semakin memahit, yang terus terbenam dimataku, bahwa; aku tidak bermimpi. Aku tak pernah bermimpi, aku hanyalah puing-puing sisa malam panjang yang kesakitan, yang selalu terjaga, berulang-ulang menegaskan; AKU tidaklah bermimpi!
Hanya serpihan lama…
Nov04-Jan05/hani
terimakasih untuk rasa, manusia dan hidup yang mempunyai-KATA.
Komentar Terakhir